Kamis, 04 November 2010

BERAS+AIR+PANAS=NASI

Diposting oleh Dittas Nurazizah Putri di 07.16
Nama : Dittas Nur Azizah Putri
Npm : 12110109
Kelas : 1KA16


BERAS+AIR+PANAS=NASI
Apa maksudnya?
Maksudnya adalah jika kita ingin memasak nasi yang kita butuhkan pasti beras dan air.
Beras ditambahkan dengan air lalu di masak hingga panas dan akhirnya menjadi nasi.
Itulah suatu prose untuk memasak nasi.
Begitu juga dengan sesuatu hal yang selalu memakai proses.
Tidak ada sutu hal yang tidak menggunakan proses.
Seperti pada awal kita di lahirkan hingga menjadi dewasa saat ini semuanya memakai proses.
Dari cara berbicara, tingkah laku dll pada mulanya dilakukan karna adanya proses.
Jadi kita tidak bisa melakukan atau mejawab sesuatu tanpa proses terlebih dahulu karena proses itu merupakan sesuatu yang harus di jalani sebelum mencapai tujuan.


Sebenarnya apa yang dimaksud dengan proses?
Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain, mungkin menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya, yang menghasilkan suatu hasil. Suatu proses mungkin dikenali oleh perubahan yang diciptakan terhadap sifat-sifat dari satu atau lebih objek di bawah pengaruhnya.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Proses



Seperti contoh Proses terjadinya hujan dimulai dari terbentuknya awan. Awan ini kemudian pecah membentuk partikel-partikel air yang sampai kebumi yang kita sebut dengan hujan.

Sumber :http://berita-iptek.blogspot.com/2008/08/proses-terbentuknya-hujan.html

Seorang bayi akan belajar merangkak sebelum berjalan. Tentu saja tak hanya sekali ia terjatuh dan kadang masih membutuhkan orang lain yang menggenggam tangannya ketika ia belajar berjalan. Demikian juga halnya dengan sepasang kekasih yang awalnya sama-sama egois, sejalan dengan waktu mereka bisa saling mengerti satu sama lain. Minimal, ada yang menahan keegoisannya ketika yang satu berada di puncak keegoisan. Semua itu memang butuh proses!
Kadang, kita menyimpulkan tentang seseorang dari beberapa sudut pandang kita, melupakan bahwa asumsi kita bisa saja berbeda dengan orang lain. Berjalan dengan waktu, kita kurang bijak bila tetap memandang seseorang itu dari sudut pandang yang sama. Bukankah pasti ada perubahan dalam dirinya? Dalam buku Quantum Learning (Bobbi & Mike) ada sebuah tulisan yang menyatakan bahwa "Setiap orang punya paradigma/aturan untuk mengevaluasi informasi dan menerapkannya dalam hidup kita berdasarkan pada pengalaman hidupnya. Kadang yang kita perlukan adalah pergeseran dalam sudut pandang kita." Nah, bila di bulan kemarin kita punya suatu kesimpulan A dan hari ini B, hal itu tidak mutlak dianggap sebagai bentuk plin-plan. Semua memang butuh proses dan kadang harus melewati tahap tertentu.
Ketika kita tidak menyukai orang lain, dalam baik buruknya dia terasa masih ada cacat. Meski dia berubah, tetap saja asumsi awal itu sulit terhapus. Mengapa? Karena hati terlanjur terluka. Semua butuh proses, baik untuk memperbaiki dan belajar dari kesalahan, untuk memaafkan, atau melupakan hal yang telah dan pasti kita alami karena hal itu telah digariskan. Misalnya saja tentang tunangan kita yang menikah dengan orang lain, tentang hp kita yang hilang, tentang perlawanan kita terhadap orang tua, tentang provokasi yang mungkin pernah kita lakukan atau kita dituduh korupsi oleh pihak-pihak yang tidak menyukai kita. Bila ada yang menyakiti atau yang kita sakiti meski itu tidak disengaja atau kita harus melepas sesuatu dan kehilangan, mungkin jalannya memang harus seperti itu dan Tuhan menghendaki hal itu terjadi. Yang pasti semua pasti ada hikmahnya. Memang sih, untuk memahami hal ini sangatlah tidak mudah. Berjalan dengan waktu, mungkin kalimat itu akan terasa lebih dalam dihati kita.



Kesalahan itu wajar, namun lebih baik bila dihindari. Kita sendiri masih jauh dari sempurna, lantas mengapa kita menuntut orang lain untuk bisa sempurna dimata kita? Mengapa tidak menghargai orang lain yang berusaha untuk berubah? Sebagai makhluk dimana emosi seringkali lebih berperan daripada logika, karakter manusia itu berbeda-beda. Setiap orang memang mempunyai jalan hidup masing-masing. Orang yang memahami, mengerti dan menilai kita juga dengan cara dan prosesnya masing-masing. Kita tidak bisa memaksa kekasih kita untuk memahami kita seperti cara mantan kekasih memahami kita.

Dalam hubungan sosial yang lain, untuk mendapatkan simpati, seseorang akan berusaha mempengaruhi orang lain. Misalnya saja dalam pemilu. Nah, yang jadi masalah pengaruh itu benar atau hanya bualan? Dan apa akibatnya pengaruh itu terhadap orang lain?.
Setiap orang berharap mendapatkan kebahagiaan. Kalo kita benar-benar menginginkan hidup bahagia, pasti tak terbesit dalam hati kita membuat luka dengan sengaja demi perayaan semu. Semua emang butuh proses untuk menemukan keinginan bahagia seperti itu. Kita tidak selalu harus membela diri atau mencari sekutu demi anggapan proses kita itu lebih baik daripada orang lain. Mari kita belajar dari pengalaman Lincoln. Pada tahun 1842, Abraham Lincoln mengejek seorang politikus yang suka berkelahi yang bernama James Shields. Lincoln mengecamnya melalui sepucuk surat tanpa nama yang diterbitkan dalam journal Springfield. Ketika James tahu yang menulis adalah Lincoln, James mengajak Lincoln berduel. Pada menit terakhir, pendukung mereka menyela dan menghentikan duel tersebut. Itu adalah insiden yang paling mengerikan dalam hidup Lincoln. Hal itu mengajarinya satu pelajaran tak ternilai harganya dalam seni berhubungan dengan manusia. Sejak saat itu, beliau tak pernah lagi menulis surat yang menghina atau mengolok-olok seorangpun. Istri Lincoln dan beberapa orang pernah berbicara kasar mengenai orang selatan dan Lincoln pun menjawab "Jangan mengkritik mereka. Mereka hanya bertindak dengan cara yang sama seperti yang akan kita lakukan bila berada dalam situasi yang sama."
Lincoln yang awalnya termasuk pengkritik, kemudian bisa berpikir bijak seperti itu memang butuh proses. Nabi saja pernah melakukan khilaf, begitupula dengan orang-orang besar yang lain, apalagi kita. Semua memang butuh proses untuk meraih apa yang telah, akan atau diharapkan bisa kita dapatkan. Yang terpenting bukan tentang hasil akhir namun apa kesimpulan dari seluruh perjuangan itu.
Sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8317




Dalam satu tandan pisang, tak semua buahnya matang secara serentak. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua. Maka, sang petani ada kalanya harus menyimpannya kembali beberapa saat menunggu hingga matang semuanya.
Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat matang, kelak akan memiliki rasa yang sama yakni memiliki rasa pisang. Meskipun waktu untuk menjadi matang pada pisang berbeda-beda…
Begitulah kita..tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu, ia butuh waktu untuk menyelesaikannya. Bahkan belum sampai pada kesempurnaan. Namun pada akhirnya, hasil yang didapatkan tetap dapat dirasakan.
Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena di antara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda. Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang memiliki kesamaan keinginan dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus dipergilirkan. Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidaksamaan, perbedaan, dan ketidakcocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu.
Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita, maka janganlah rendah diri…semua butuh proses menjadi lebih baik…..
Sumber : http://www.krenungan.org/wordpress/?p=443

0 komentar:

Posting Komentar